Jangan lupa share and coment yaa guys :D
Minggu, 03 Juni 2018
Resep Pizza Indomie Lezat
Jangan lupa share and coment yaa guys :D
Steak Tempe, Makanan mewah ala anak kost
Steak pada umumnya dibuat dengan menggunakan daging sebagai bahan dasarnya. Namun ternyata steak bisa juga loh dibuat dengan bahan dasar yang lain semisal tempe. Menu makanan steak tempe ini sangat cocok bagi anda yang vegetarian atau yang lagi diet ketat. Proses membuatnya pun mudah serta bahan – bahannya sangat banyak tersedia dipasar ataupun di penjual sayuran. Steak tempe ini tergolong menu makanan yang kaya akan gizi, karena seperti kita ketahui tempe banyak mengandung vitamin, kalsium, protein, serat pangan serta zat besi yang sangat baik bagi kesehatan. Selain itu harganya murah dan ramah di kantong.. haha :D.Jika anda tertarik dan penasaran dengan menu makanan steak tempe tersebut, tidak ada salahnya jika membuatnya sendiri dirumah dengan cara mengikuti Resep Cara Membuat Steak Tempe yang kami uraikan berikut ini.
Bahan Membuat Steak Tempe :
300 gr tempe, kukus 15 menit (haluskan)
50 gr tepung roti
2 butir telur
2 butir bawang putih (haluskan)
1 sdt garam
1 sdt merica bubuk
Margarin/minyak (untuk menggoreng)
50 gr tepung roti
2 butir telur
2 butir bawang putih (haluskan)
1 sdt garam
1 sdt merica bubuk
Margarin/minyak (untuk menggoreng)
Bahan saus:
1/2 buah bawang bombay, cincang halus
1 sdm kecap manis
1 sdm saus tomat
Lada gerus (jika suka) secukupnya (untuk taburan)
1/2 buah bawang bombay, cincang halus
1 sdm kecap manis
1 sdm saus tomat
Lada gerus (jika suka) secukupnya (untuk taburan)
Cara membuat saus:
Tumis bawang bombay hingga beraroma harum, kemudian tambahkan saus tomat beserta kecap manis (jika suka, bisa juga anda tambahkan potongan cabai), Lalu aduk hingga merata. Setelah itu tambahkan air secukupnya agar tidak sausnya terlalu kental.
Tumis bawang bombay hingga beraroma harum, kemudian tambahkan saus tomat beserta kecap manis (jika suka, bisa juga anda tambahkan potongan cabai), Lalu aduk hingga merata. Setelah itu tambahkan air secukupnya agar tidak sausnya terlalu kental.
Cara Membuat Steak Tempe :
- Langkah pertama, campurkan tempe, tepung, telur, bawang, merica, bawang dan garam, kemudian aduk hingga tercampur rata. Setelah itu tambahkan sedikit air (agar adonan dapat dibentuk)
- Selanjutnya, ambil beberapa adonan, kemudian bentuk menjadi berbentuk bulatan ukuran sedang, setelah itu pipihkan dan usahakan agar adonan tidak pecah-pecah.
- Berikutnya, panaskan minyak (sedikit saja). Lalu masukkan adonan dan bolak balik adonan agar seluruh permukaannya matang merata. Setelah itu angkat dan tiriskan.
- Terakhir, penyajian : taruh steak tempe di atas sebuah piring saji. Lalu tuangkan saus di atasnya sampai menutupi semua bagian steak. Kemudian taburkan lada hitam pada bagian atasnya (jika suka) dan jangan lupa, agar terlihat lebih menarik dan bergizi bisa ditambahkan kentang goreng dan aneka jenis sayuran
Nah, demikianlah ulasan singkat mengenai Resep Cara Membuat Steak Tempe yang bisa kami infokan kepada anda.
Ceramah Ustadz Abdul Shomad yang lucu abiss
Ustadz Abdul Shomad, siapa yang tak kenal beliau. Ustadz yang dijuluki "Ustadz Seribu Views" ini selalu dikagumi seluruh lapisan masyarakat, artis hingga Wapres RI. Ceramah-ceramah beliau yang menarik dan gaya penyampainnya yang khas membuat Ust. Abdul Shomad menjadi ustadz yang banyak digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Kesederhanaan, keramahan, kelembutan dan sifat humoris beliau subahanallah. Mimin juga suka banget dengan semua ceramah-ceramah beliau. :D
Jangan lupa share and coment ya akhy ya ukhty..:D
Sabtu, 02 Juni 2018
Makalah Filsafat Ilmu tentang Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran
BAB
I
PEMBAHASAN
A. Pengetahuan
1. Definisi
Pengetahuan
De omnibus dubitandum! Segala sesuatu harus di
ragukan desak Rene Descartes. Namun, segala yang ada dalam hidup ini di mulai
dengan meragukan sesuatu, bahkan juga Hamlet si peragu, yang berseru kepada
Ophelia :
Ragukan bahwa
bintang-bintang itu api;
Ragukan bahwa matahari
itu bergerak;
Ragukan bahwa kebenaran
itu dusta;
Tapi jangan ragukan
cintaku.
Kebenaran
adalah pernyataan tanpa ragu !
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam
proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang
dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pernyataan:
bagaimanakah caranya kita mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama
adalah mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada
pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan
rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman
mengambangkan paham yang disebut dengan empirisme. Kaum rasionalis
mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang di
pakai dalam penalarannya di dapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas
dan dapat di terima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia.
Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya.
Paham dikenal dengan idealisme. Fungsi pikiran manusia hanyalah mengenali
prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sendiri sudah
ada dan bersifat apriori.
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam
bahasa Inggris yaitu Knowledge. Dalam
Encyclopedia Of Philosophy dijelaskan
bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar ( Knowledge Is Justified True Belief ). Sedangkan secara
terminologi dikemukakan beberapa definisi tentang pengetahuan. Menurut Drs.
Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu.
Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan
pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian
pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Dalam kamus istilah filsafat dijelaskan bahwa
pengetahuan (knowledge) adalah proses
kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri.
Dalam peistiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di
dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga mengetahui itu menyusun yang
diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif. Lebih lanjut lagi
dijelaskan bahwa pengetahuan dalam arti luas berarti semua kehadiran
internasional objek dalam subjek. Namun dalam arti sempit dan berbeda dengan
imajinasi atau pemikiran belaka, pengetahuan hanya berarti putusan yang benar
dan pasti ( kebenaran, kepastian ). Disini subjek sadar akan hubungan objek
dengan eksistensi, pada umumnya adalah tepat kalau mengatakan pengetahuan hanya
merupakan pengalaman “ sadar “. Karena sangat sulit melihat bagaimana persisnya
suatu pribadi dapat sadar akan suatu eksisten tanpa kehadiran eksisten itu di
dalam dirinya. Orang pragmatis, terutama John Dewey tidak membedakan
pengetahuan dengan kebenaran ( antara knowledge
dan truth ). Jadi pengetahuan itu
harus benar, kalau tidak benar adalak kontradiksi.[1]
Adapun istilah Epistemologi dipakai pertama kali
oleh J.F. Feriere yang maksudnya untuk membedakan antara dua cabang filsafat,
yaitu epistemologi dan ontologi (
metafisika umum ). Epistemologi berasal dari kata Yunani, Episteme dan logos di
artikan pikiran, kata atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan
teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hannya disebut teori pengetahuan yang
dalam bahasa Inggrisnya menjadi theory of knowledge. Istilah-istilah lain yang
setara maksudnya dengan epistemologi dalam berbagai kepustakaan filsafat
kadang-kadang disebut juga logika material, criteriology, kritika pengetahuan,
gnosiology dan dalam bahasa Indonesia lazim dipergunakan istilah ‘ Filsafat
Pengetahuan ‘.[2]
Semua pengetahuan hanya dan ada di dalam pikiran manusia, tanpa pikiran
pengetahuan tidak akan eksis. Oleh karena itu keterkaitan antara pengetahuan
dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Bahm ( dalam Rizal Mustansyir
dkk, 2001 ) menyebutkan ada delapan hal penting yang berfungsi membentuk
struktur pikiran manusia, yaitu :
Pertama, mengamati
( observes ); pikiran berperan dalam mengamati objek-objek. Dalam melaksanakan
pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah mengandung kesadaran.
Kedua, Menyelidiki
( inquires ); ketertarikan pada objek dikondisikan oleh jenis-jenis objek yang
tampil. Tenggang waktu atau durasi minat seseorang pada objek itu sangat
tergantung pada “ daya tariknya “.
Ketiga, Percaya
( believes ); manakala suatu objek muncul dalam kesadaran, biasanya objek-objek
itu diterima sebagai objek yang menampak. Kata percaya biasanya dilawankan
dengan keraguan. Sikap menerima sesuatu yang menampak sebagai pengertian yang
memadai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan.
Keempat,
Hasrat ( desires ); kodrat hasrat ini mencakup kondisi biologis serta
psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran
dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat, kita dapat mengatakannya sebagai hasrat
pikiran. Tanpa pikiran tidak mungkin ada hasrat.
Kelima, maksud
( intends ); kendatipun memiliki memiliki maksud ketika akan mngobservasi,
menyelidiki, mempercayai dan berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak
berbeda atau bahkan terdorong ketika melakukannya.
Keenam,
mengatur ( organizes ); setiap pikiran adalah suatu organisme yang teratur
dalam diri seseorang.
Ketujuh,
menyesuaikan ( adapts ); menyesuaikan pikiran sekaligus melakukan
pembatasan-pembatasan yang dibebankan
pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dan tubuh di
dalam fisik, biologis, lingkungan sosial dan kultural dan keuntungan yang
terlihat pada tindakan, hasrat dan kepuasan.
Kedelapan,
menikmati ( enjoys ); pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yanng asyik
dalam menekuni suatu persoalan, ia akan menikmati itu dalam pikirannya.
2. Sumber
Pengetahuan
Sumber pengetahuan ialah apa yang menjadi titik
tolak atau apa yang merupakan objek pengetahuan itu sendiri. sumber itu dapat
bersifat atau berasal dari “ dunia eksternal “ atau juga terkait dan berasal
dari “dunia internal” atau kemampuan subjek.
Dalam sejarah filsafat, Plato dan Aristoteles adalah
dua filsuf yang memiliki pandangan yang berbeda terkait sumber pengetahuan.
Plato disebut juga sebagai tokoh rasionalisme klasik ( sementara tokoh
rasionalism modern adalah Descartes, Spinoza, Leibniz ). Tokoh rasionalisme[3] ini
berpandangan bahwa sumber pengtahuan itu adalah rasio. Dengan kata lain, rasionalisme menempatkan
posisi rasio ( akal ) sebagai sumber
terpercaya dan utama bagi pengetahuan. Kaum rasionalis percaya bahwa proses
pemikiran abstrak ( rasional ) dapat mencapai pengetahuan dan kebenaran
fundamental yang tidak dapat disangkal tentang (a) apa yang “ada” ( tentang
realitas ) dan strukturnya serta (b) tentang alam semesta pada umumnya. Menurut kaum rasionalis, realitas dan
beberapa kebenaran tentang realitas bisa dicapai tanpa tergantung pada pengamatan
(pengalaman) atau tanpa pnggunaan metode empiris. Karena itu, pengetahuan
seperti ini kerap disebut pengetahuan a priori ( a priori knowledge, necessary
knowledge ) yang berarti tidak tergantung atau mendahului pengalaman. Jadi
pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui pngalaman.
Adapun cara kerja kaum rasionalisme adalah berdasarkan penalaran deduktif,
logis dan matematis.[4]
Adapun Ted Honderich mengemukakan beberapa sumber
pengetahuan ( sources of knowledge ). Diantaranya, Rasionalisme ( reason ),
empirisme ( perception ) , memory, introspection, precognition serta
sumber-sumber lain. Adapun R. John Hospers juga mengemukakan sejumlah sumber
pengetahuan yang lain seperti sense experience ( pengalaman indrawi ), reason (
akal budi ), authority ( otoritas ), intuition ( intuisi ), revelation (wahyu)
dan faith (keyakinan). Seperti yang terlihat, ada yang sama dan ada pula yang
berbeda antara pandangan Hosper dan Honderich tadi terkait sumber-sumber
pengetahuan. Ditulisan ini akan di terangkan sebisa mungkin menyangkut
sumber-sumber pengetahuan yang di cantumkan baik oleh Hospers maupun oleh
Honderich tersebut.
a. Perception
( persepsi/pengamatan Indrawi )
Persepsi
adalah hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam. Adapun istilah yang
lebih umum untuk istilah persepsi ini adalah empiri atau pengalaman ( empeiria;
experiential ). Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang diterima dalam
epistemologi (Barat dan Islam). Ada beberapa ciri pokok pengalaman. Pertama,
pengalaman indrawi selalu berhubungan dengan objek tertentu di luar si pengamat
( subjek ). Kedua, pangalaman manusia tidak seragam (pancaindra). Terakhir,
pengalaman manusia terus berkembang.[5]
Pengetahuan berawal mula dari kenyataan yang dapat di indrai. Tokoh pemula dari
pandangan ini adalah Aristoteles, yang berpendapat bahwa pengetahuan terjadi
bila subjek diubah di bawah pengaruh objek, artinya bentuk-bentuk dari dunia
luar meninggalkan bekas-bekas dalam kehidupan batin. Objek masuk dalam diri
subjek melalui persepsi indra ( sensasi ). Yang demikian ini ditegaskan pula
oleh aristoteles yang berkembang pada abad pertengahan adalah Thomas Aquinas
yang mengemukakan bahwa tiada sesuatu dapat masuk lewat ke dalam akal yang
tidak ditangkap oleh indra.
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang
berupa alat-alat untuk menangkap objek dari luar diri manusia melalui kekuatan
indra. Kekhilafan akan terjadi apabila ada ketidaknormalan di antara alat-alat
itu.[6]
b. Memory
( Ingatan )
Pengetahuan,
baik secara teoritis maupun praktis, banyak sekali mengandalkan ingatan.
Pengalaman langsung atau tidak langsung harus didukung oleh ingatan agar hasil
hasil pengalaman itu dapat disusun secara logis dan sistematis ( menjadi
pengetahuan ). Ingatan tentu tidak selalu benar dan tentu tidak akan persis
sama dengan penghayatan dan pengalaman kita dimasa sekarang. Sekurang-kurangnya
ada dua syarat minimal agar ingatan itu dapat dijadikan sumber pengetahuan.
Yaitu, (1) perlu ada kesaksian orang lain bahwa ingatan masa lalu saya itu
benar-benar adanya dan (2) ingatan itu konsisten dan bernilai pragmatis ( dapat
membantu memecahkan masalah ).
c. Reason
( Akal, Nalar )
Akal diterima sebagai
salah satu sumber pengetahuan. Adapunpikiran atau penalaran adalah hal yang
paling mendasar bagi kemungkinan adanya pengetahuan. Penalaran adalah proses
yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan. Ada hubungan yang erat antara
metode (metodologi) dengan logika (penalaran).
d. Intropection
( Intropeksi )
Introspeksi
juga dianggap sebagai sumber pengetahuan dimana manusia mendapatkan pengetahuan
( pengenalan atau pemahaman terhadap sesuatu ) ketika ia mencoba melihat ke
dalam dirinya. Socrates pernah menyatakan “ kenalilah dirimu sendiri “.
e. Intuition
( intuisi )
Intuisi
adalah “tenaga rohani”, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk
menyimpulkan serta memahami secara mendalam. Intuisi adalah pengenalan terhadap
sesuatu scara langsung dan bukan melalui inferensi logis ( deduksi-induksi ). Pengetahan yang diperoleh melalui intuisi
tidak dapat dibuktikan seketika atau melalui kenyataan karena pengetahuan ini
muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu.
f. Authority
( otoritas )
Otoritas
mengacu pada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan shahih
dan memiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan. Otoritas juga dapat
berasosiasi atau berarti negatif bila otoritas itu justru bersifat dominasi,
menindas dan otoritasnya tidak absah.
g. Precognition
( Prakognisi )
Prakognisi
ialah kemampuan untuk mengetahui sesuatu peristiwa yang akan terjadi.[7]
h. Revelation
( wahyu )
Wahyu
adalah berita yang disampaikan Tuhan kepada Nabi-Nya untuk kepentingan umatnya.
Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang
sesuatu yang disampaikan itu. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber
pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan itu.
i.
Faith ( keyakinan )
Keyakinan
adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui
kepercayaan sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan
keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas karena keduanya
menetapkan bahwa alat lain yang dipergunakannya adalah kepercayaan.[8]
j.
Clairvoyance
Clairvoyance
adalah kemampuan mempersepsi suatu peristiwa tanpa menggunakan indra. Seseorang
ahli nujum yang mampu mengetahui barang anda yang hilang beberapa hari lalu,
maka orang ini memiliki kemampuan clairvoyance.
k. Telepathy
( telepati )
Telepati
adalah kemampuan berkomunikasi tanpa menggunakan suara atau tanpa menggunakan
kemampuan mental.[9]
3. Jenis-jenis
Pengetahuan
Pengetahuan
menurut Soejono Soemargono ( 1983 ) dapat dibagi atas pengetahuan non ilmiah
dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan non ilmiah adalah segenap hasil pemahaman
manusia atas attau mengenai sesuatu atau objek tertentu yang terdapat dalam
kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengetahuan ilmiah adalah segenap hasil
pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Pengetahuan
ilmiah adalah pengetahuan yang sudah lebih sempurna karena telah mempunyai dan
memenuhi syarat-syarat tertentu dengan cara berpikir yang khas, yaitu
metodologi ilmiah. Pengetahuan ragam ini umumnya disebut ilmu pengetahuan.
Jenis-jenis
pengetahuan juga dapat dilihat dari pendapat Plato dan Aristoteles. Plato
membagi pengetahuan menurut tingkatan-tingkatan pengetahuan sesuai dengan
karakteristik objeknya. Pmbagiannya adalah sebagai berikut :
a. Pengetahuan
Eikasia ( Khayalan )
Tingkatan yang paling
rendah disebut pengetahuan eikasia, ialah pengetahuan yang objeknya berupa
bayangan atau gambaran. Pengetahuan ini isinya adalah hal-hal yang berhubungan
dengan kesenangan atau kesukaan serta kenikmatan manusia yang berpengetahuan.
b. Pengetahuan
Pistis ( Substansial )
Pengetahuan ini adalah
pengetahuan mengenai hal-hal yang tampak dalam dunia kenyataan atau hal-hal
yang dapat di indrai secara langsung. Objek pengetahuan pistis biasa disebut zooya karena isi pengetahuan semacam ini
mendekati suatu keyakinan ( kepastian yang bersifat sangat pribadi atau kepastian
subjektif ) dan pengetahuan ini mengandung nilai kebenaran apabila mempunyai
syarat-syarat yang cukup bagi suatu tindakan mengetahui, misalnya mempunyai
pendengaran yang baik, penglihatan normal, serta indra yang normal.
c. Pengetahuan
Dianoya ( Matematik )
Plato menerangkan
tingkat pengetahuan ini ialah tingkatan yang ada di dalamnya sesuatu yang tidak
hanya terletak pada fakta atau objek yang tampak, tetapi juga terletak pada
bagaimana cara berpikirnya.
d. Pengetahuan
Noesis ( Filsafat )
Pengetahuan tingkat
tertinggi disebut noesis, pengetahuan
yang objeknya adalah arche ialah prinsip-prinsip utama yang mencakup
epistemologi dan metafisik. Prinsip utama ini biasa disebut “ IDE “. Plato
menerangkan tentang pengetahuan ini adalah hampir sama dengan pengtahuan pikir,
tetapi tidak lagi menggunakan pertolongan gambar, diagram melainkan dengan
pikiran yang sungguh-sungguh abstrak. Tujuannya adalah untuk mencapai
prinsip-prinsip utama yang isinya hal-hal yang berupa kebaikan , kebenaran dan
keadilan. Menurut plato cara berpikir
untuk mencapai tingkat tertinggi dari pengetahuan itu adalah dengan menggunakan
metode dialog sehingga dapat di capai pengetahuan yang sungguh-sungguh sempurna
yang biasa disebut episteme.
Aristoteles mmpunyai
pendapat berbeda. Menurut Aristoteles pengetahuan harus merupakan kenyataan
yang dapat diindrai dan kenyataan adalah sesuatu yang merangsang budi kita
kemudian mengolahnya. Aristoteles tidak membagi pengetahuan menurut
tingkatannya, melainkan menurut jenisnya sesuai dengan fungsi dari pengetahuan
itu. Pengetahuan yang umumnya yang merupakan kumpulan dinamakan rational knowledge yang dipisahkan dalam
tiga jenis, yaitu (1) pngetahuan produksi ( seni ), (2) pengetahuan praktis
(etika, ekonomi, politik) ; (3) pengetahuan teoritis (fisika, matematika, dan
metafisika/filsafat pertama). Sangat berbeda dengan kedua pendapat diatas
Pyrrho seorang skeptis ekstrem berpendapat bahwa tidak ada barang sesuatu yang
dapat diketahui dengan menghindarkan diri dari setiap pemberian tanggapan. Hal
ini terjadi karena sarana untuk mengetahui yang kita miliki tidak dapat
diprcaya dan segala sesuatu saling bertentangan, sedangkan semuanya berdalih
benar.
4. Asal-usul
Pengetahuan
a. Aliran-aliran
dalam Pengetahuan
Dari
mana pngetahuan itu berasal dan apa yang diyakini sebagai kebenaran bisa dilihat
dari aliran dalam pengetahuan.
1) Rasionalisme
Aliran
ini berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi yang dapat dipercaya
oleh rasio ( akal ). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang
memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu
syarat yang dipakai oleh semua pengaetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dapat
dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang didapatkan oleh akal. Akal dapat
menurunkan kebenaran dari pada dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas pertama
yang pasti. Metode yang diterapkan adalah deduktif. Teladan yang dikemukakan
adalah ilmu pasti. Filsufnya antara lain
Rene Descartes, B. Spinoza, dan Leibniz.
2) Empirisme
Aliran
ini berpendapat, bahwa empiris atau pengelaman lah yang menjadi sumber pengetahuan,
baik pengalaman yang batiniah maupun yang lahiriah. Akal bukan jadi sumber
pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang
diperoleh dari pengalaman.metode yang diterapkan adalah induksi. Filsuf
empirisme antara lain John Locke, David Hume, William James
3) Kritivisme
Penyelesaian
pertentangan antara rasionalisme dan empirisme hendak diselesaikan oleh
Immanuel Kant dengan kritisismenya. Menurut I Kant, peranan budi sangat besar
sekali. Hal ini tampak dalam pengetahuan apriorinya, baik yang analitis maupun
yang sintesis. Disamping itu peranan pengalaman (empiris) tampak jelas dalam
pengetahuan aposteriorinya.
4) Positivisme
Positivisme
berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, dan yang positif.
Segala uraian dan persoalan yang diluar apa yang ada sebagai fakta atau
kenyataan di kesampingkan. Oleh karena itu metafisika ditolak. Apa yang kita
ketahui secara positif adalah segala yang tampak , segala gejala. Arti segala
ilmu pengetahuan adalah menggetahui untuk dapat melihat ke masa depan. Tokoh
positivisme adalah August Comte. Menurut August Comte, perkembangan pemikiran
manusia berlangsung dalam tiga tahap atau tiga zaman,yaitu zaman teologis,
zaman metafisis, dan zaman ilmiah atau zaman positif. Perkembangan yang demikian
itu berlaku baik bagi perkembangan pemikiran perorangan maupun bagi
perkembangan pemikiran seluruh umat manusia.
b. Metode
Ilmiah
Metodologi
merupakan hal yang mengkaji urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya
pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri ilmiah.
Menurut
Soejono Soemargono (1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua macam yaitu,
metode ilmiah yang bersifat umum dan metode penyelidikan ilmiah. Metode ilmiah yang bersifat umum masih dapat
dibagi dua, yaitu metode analitiko-sintesis dan metode non-deduksi. Metode
analitiko sintesis merupakan gabungan dari metode analisis dann metode
sintesis. Metode non deduksi merupakan gabungan dari metode dedeuksi dan metode
induksi.
Metode
analisis ialah cara penanganan terhadap barang sesuatu atau sesuatu objek
ilmiah tertentu dengan jalan memilah-milahkan pengertian yang satu dengan
pengertian yang lainnya.
Pengalaman
analitik a posteriori berarti kita dengan menerapkan metode analisis terhadap
sesuatu bahan yang terdapat di alam empiris atau dalam pengalaman sendiri
memperoleh sesuatu pengetahuan tertentu.
Metode
sintesis ialah cara penanganan terhadap sesuatu objek tertentu dengan cara
menggabungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya sehingga
menghasilkan pengetahuan yang baru.pengetahuan sintesis aposteriori itu
merupakan pengalaman yang diperoleh dengan cara menggabung pengertian
5. Objek
Pengetahuan
Objek pengetahuan adalah hal yang menjadi
bagi pengetahuan (objek material).Dalam istilah epistemologi,hal ini disebut
ontologi.Honderich (1995) menyatakan bahwa objek pengetahuan adalah: (1) gejala
alam fisis, (2) masa lalu, (3) masa depan, (4) nilai-nilai hakikat dan manfaat
yang terdapat dalam suatu pengetahuan atau yang di sebut aksiologi, (5) abstraksi,
(6) pikiran.
Gejala alam fisis atau fenomena alam
adalah objek ilmu pengetahuan yang utama
pada ilmu-ilmu alam.Masa lalu sebagai objek pengetahuan bisa menjadi perhatian
bagi ahli sejarah, arkeologi, etnologi, antropologi dan lain-lain.Kelompok
pengetahuan ini lebih bersifat
retrodiktif (melihat ke belakang) (sedangkan ilmuyang lebih berorientasi ke
masa depan disebut dengan ilmu prediktif). Objek yang berkaitan dengan
nilai-nilai menjadi objek yang dibicarakan pada bidang tertentu, seperti
nilai-nilai moral menjadi objek kajian etika dan nilai-nilai keindahan menjadi
objek kajian estetika. Sedangkan absstraksi dan pikiran dapat menjadi perhatian atau fokus kajian pada
psikobiologi, psikologi.
Objek pengetahuan Honderich dapat di
kelompokan berdasarkan konsep Popper tentang teori tiga dunia, yaitu: Dunia I,
yaitu objek yang berkaitan dengan dengan fenomena alam fisis; Dunia II,yaitu semua
yang berhubungan dengan dunia pemikiran danproses mental, sedangakan Dunia III,
yaitu semua hal yang berhubungan dengan konsep, teori yang ada dalam buku atau
tulisan dan hasil budaya lain, misalnya semua hasil penelitian/teoriyang
terdapat dalam berbagai karya tulis yang
terdapat dalam perpustakaan.
6. Struktur
Pengetahuan
Struktur atau situasi pengetahuan
membahas bagaimana hubungan antara ilmuwan dengan sense atau data atau
hal/objek yang diketahui (Hunnex, 1986:8). Struktur pengetahuan disebut juga
situasi pengetahuan atau fenomenologi pengetahuan. Hubungan antara subjek yang
mengetahui dan objek yang diketahui bergambar dari beberapa pandangan. Beberapa
pandangan tersebut adalah objektifitas, subjektifitas, skeptisisme, relativisme
dan fenomenalisme. Pembahasan singkat mengenai pandangan-pandangan tersebut.
a. Objektivisme
Pendukung objektivisme
berpendapat bahwa objek-objek fisis yang di observasi/teliti bersifat
independen dihadapan subjek yang meneliti/mengetahui. Realitas data, sensasi
adalah sama atau satu. Dengan demikian, subjek yang mengetahui hanya
mencerminkan, subjek yang mengatahui hanya mencerminkan realitas naif ( naive
realism ). Kaum objektivisme ini berpendapat bahwa subjek (Ilmuwan) bersifat
pasif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Objek justru dianggap paling
berperan. Posisi ilmuwan tak ubah seperti cermin yang mementulkan realitas luar
secara apa adanya. Aliran empirisme dan positivisme umumnya menerima pandangan
objektivisme ini. Pandangan seperti ini disebut dengan realisme epistemologi
atau monisme epistemologis.
b. Subjektivisme
Subjektivisme
adalah pandangan yang menekankan peran unsur/dimensi subjek dalam menghasilkan
pengetahuan. Pengetahuan kita merupakan ide-ide dalam pikiran orang yang
mengetahui ( the knower ). Karena itu, tidak mungkin kita mengetahui sesuatu (
objek, fenomena ) diluar ide-ide tersebut.
c. Skeptitisme
Skeptitisme
adalah paham yang menyatakan ketidakmungkinan untuk mencapai/memperoleh
kebenaran objektif ( akhir, final ) pengetahuan/ilmu pengetahuan. Gorgias[10]
mengemukakan satu bentuk skeptitisme ekstrem, sementara David Hume bertolak
dari prinsip empirisme yang menolak untuk menerima sesuatu diluar empiri. Hume
menolak ( meragukan ) gejala kausalitas dan metode induksi yang justru dominan
dalam paradigma positivisme, karena bagi Hume kausalitas dan induksi itu tidak
dapat diamati secara langsung. Hume menyatakan bahwa pengamatan hanya
menghasilkan arus persepsi sebagai kesan-kesan dan ide-ide saja. Karl Raimund
Popper kemudian melanjutkan penolakan Hume ini dengan mengajukan prinsip falsifikasi.
d. Relativisme
Relativisme
adalah pandangan yang menyatakan bahwa kebenaran tidak bersifat absolut atau
universal. Ada beberapa bentuk relativisme, antara lain relativisme subjektif,
relativisme budaya, dan relativisme konseptual .
e. Fenomenalisme
Fenomenalisme
( phenomenon = apa yang tampak ) adalah pandangan yang menyatakan bahwa kita
hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang diindrai atau gejala sebagaimana tampak
lewat pengamatan. Fenomenalisme Cuma mengakui objek-objek fisis yang teramati
saja (fisikalisme) dan meolak adanya hakikat dibalik gejala (noumena, das Ding
an Sich ). Dengan demikian, pendukung aliran ini berpendapat bahwa seluruh
objek fisis dapat dikembalikan kepada pernyataan tentang pola-pola dari
indrawi.
B. Ilmu
Pengetahuan
1. Definisi
Ilmu Pengetahuan
Ilmu
pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris sciene, yang berasal dari bahasa
latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari,
meengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti
sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai
gejala yang ingin dimengerti manusia. Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah
sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa
yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat
tentang sesuatu. dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu
sesuatu yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun
peristiwa.[11]The
Liang Gie (1987), memberikan pengertian
ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode
untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia
ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang
menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
2. Ciri-ciri
Ilmu Pengetahuan
Ciri
persoalan pengetahuan ilmiah antara lain adalah persoalan dalam ilmu itu
penting untuk segera dipecahkan dengan maksud untuk memperoleh jawaban. Dengan
memiliki persoalan keilmuwan pada dasarnya masalah yang terkandung dalam ilmu
adalah selalu harus merupakan suatu problema yang telah diketahui atau yang
ingin diketahuinya, kemudian ada suatu penelaahan dan penelitian agar dapat
diperoleh kejelasan dengan mengunakan metode yang relevan untuk mencapai
kebenaran yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.
Ilmu
pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987) mempunyai lima
ciri pokok antara lain:
a. Empiris,
pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
b. Sistematis,
berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu
mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
c. Objektif,
ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan
pribadi;
d. Analitis,
pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala bagian yang
terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari
bagian-bagian itu;
e. Verifikatif,
dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.
Adapun Van Melsen (1985) (dalam
Surajiyo, 2010) mengemukakan ada delapan ciri yang menandai ilmu, yaitu sebgai
berikut:
a. Ilmu
pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis
koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus
(susunan logis).
b. Ilmu
pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tangung jawab
ilmuwan.
c. Universal
ilmu pengetahuan.
d. Objektivitas,
artinya setiap ilmu terpimpin oleh object dan tidak didistorsi oleh
prasangka-prasangka subjektif.
e. Ilmu
pengetahuan harus dapat di verifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang
bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
f.
Progresivitas, artinya suatu jawaban
ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan baru
dan menimbulkan problem baru lagi.
g. Kritis,
artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu
peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
h. Ilmu
pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori
dengan praktis.
Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu
adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu
golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukanya tampak dari
luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
Demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus
bekerja dengan cara ilmiah. Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila
dipenuhi syarat-syarat yang intinya adalah:
a. Ilmu
harus menpunyai objek, ini berarti bahwa kebenaran yang hendak diungkapkan dan
dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya.
b. Ilmu
harus mempunyai metode, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran yang
objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi.
c. Ilmu
harus sistematik, ini berarti bahwa dalam memberikan pengalaman, objeknya
dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang teratur.
d. Ilmu
bersifat universal, yaitu kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak mengenai
sesuatu yang bersifat khusus, melainkan kebenaran berlaku umum.[12]
3. Keragaman
Ilmu Pengetahuan
Kumpulan
pernyataan ilmuwan mengenai suatu objek yang memuat pengetahuan ilmiah oleh The
Liang Gie mempunyai 4 bentuk:
a. Deskripsi
Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak
deskrptif dengan memberikan mengenai bentuk, susunan, peranan, dan hal-hal
terperinci lainnya dari fenomena yang bersangkutan. Bentuk ini umumnya terdapat
pada cabang-cabang ilmu khusus yang terutama bercorak deskriptif seperti
misalnya ilmu antonomi atau ilmu geografi.
b. Perspektif
Ini
merupakan kumpulan corak pernyataan bercorak preskriptif dengan memberikan
petunjuk atau ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau sebaiknya
dilakukan dengan hubungannya dengan objek sederhana. Bentuk ini dapat dijumpai
dalam cabang-cabang ilmu sosial misalnya, ilmu pendidikan yang memuat petunjuk
cara mengajar yang baik dalam kelas.
c. Eksposisi
pola
Bentuk ini merangkum pernyataan yang
memaparkan pola dalam sekumpulan sifat, ciri, kecenderungan, atau proses
lainnya dari fenomena yang ditelaah. Misalnya dalam antropologi dapat
dipaparkan dalam kebudayaan berbagai suku bangsa atau dalam sosiologi
dibeberkan pola perubahan masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan.
d. Eksposisi
pola
Bentuk
ini merangkum pernyataan yang memaparkan pola dalam sekumpulan sifat, ciri,
kecenderungan, atau proses lainnya dari fenomena yang ditelaah. Misalnya dalam
antropologi dapat dipaparkan dalam kebudayaan berbagai suku bangsa atau dalam
sosiologi dibeberkan pola perubahan masyarakat pedesaan menjadi masyarakat
perkotaan.[13]
C. Ukuran
Kebenaran
1. Definisi
Kebenaran
Apakah
kebenaran itu? Inilah pertanyaan yang lebih lanjut harus dihadapi didalam
filsafat ilmu. Hal kebenaran sesungguhnya memang merupakan tema sentral di
dalam filsafat ilmu. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah
untuk mencapai kebenaran. Rasanya lebih tepat kalau pertanyaan kemudian
dirumuskan menjadi apakah pengetahuan yang benar itu?.
Problematik
menganai kebenaran, seperti halnya problematik tentang pengetahuan, merupakan
masalah-masalah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya dalam filsafat ilmu.
Apabila orang memberikan prioritas kepada peranan pengetahuan, dan apabila
orang percaya bahwa dengan pengetahuan itu manusia akan menemukan kebenaran dan
kepastian, maka mau tidak mau orang harus berani menghadapi pertanyaan tersebut,
sebagai hal yang mendasar dan hal yang mendasari sikap dan wawasannya.
Dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni 1.
Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang
sesungguhnya), 2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian
halnya dan sebagainya ), 3. Kejujuran; kelurusan hati, 4. Selalu izin;
perkenanan, 5. Jalan kebetulan.[14]
2. Jalan
Penemuan Kebenaran
Cara
untuk menemukan kebenaran berbeda-beda. Dari berbagai cara untuk menemukan
kebenaran dapat dilihat cara yang ilmiah dan yang non ilmiah. Cara-cara untuk
menemukan kebenaran sebagaimana diuraikan oleh Hartono Kasmadi, dkk., ( 1990 )
sebagai berikut:
a. Penemuan
Secara Kebetulan
Penemuan
kebenaran secara kebetulan adalah penemuan yang berlangsung tanpa disengaja.
Dalam sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu banyak juga yang diterima
walaupun terjadinya tidak dengan cara ilmiah, tidak disengaja, dan tanpa
rencana. Cara ini tidak dapat diterima dalam metode keilmuan untuk menggali
pengetahuan atau ilmu.
b. Penemuan
‘Coba dan Ralat’ ( Trial and Error )
Penemuan coba dan ralat
terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang
dicari. Memang ada aktivitas mencari kebenaran, tetapi aktivitas itu mengandung
unsur spekulatif atau ‘untung-untungan’. Penemuan dengan cara ini kerap kali
memerlukan waktu yang lama, karena memang tanpa rencana, tidak terarah, dan
tidak diketahui tujuannya. Cara coba dan ralat ini pun tidak dapat diterima sebagai
cara ilmiah dalam usaha untuk mengungkapkan kebenaran.
c. Penemuan
Melalui Otoritas atau Kewibawaan
Pendapat orang-orang
yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan
kekuasaan sering diterima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu tidak
didasarkan pada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada
gunanya. Pendapat itu tetap berguna, terutama dalam merangsang usaha penemuan
baru bagi orang-orang yang menyangsikannya. Namun demikian adakalanya pendapat
itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Dengan demikian pendapat pemegang otoritas itu bukanlah
pendapat yang berasal dari penelitian, melainkan hanya berdasarkan pemikiran
yang diwarnai oleh subjektivitas.
d. Penemuan
Secara Spekulatif
Cara ini mirip dengan cara
coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaannya dengan coba dna ralat memang ada.
Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan pada penemuan
secara spekulatif, mungkin sekali ia membuat sejumlah alternatif pemecahan.
Kemudian ia mungkin memilih satu alternatif pemecahan, sekalipun ia tidak yakin
benar mengenai keberhasilannya.
e. Penemuan
Kebenaran Lewat Cara Berpikir Kritis dan Rasional
Telah banyak kebenaran
yang dicapai oleh manusia sebagai hasil upayanya menggunakan kemampuan
berpikirnya. Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada
pemecahan yang tepat. Cara berpikir yang ditempuh pada tingkat permulaan dalam
memecahkan masalah adalah dengan cara berpikir analitis dan cara berpikir
sintesis.
f. Penemuan
Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah
Cara mencari kebenaran
yang dipandang ilmiah ialah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian
adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf keilmuan.penyaluran
sampai pada taraf setinggi ini disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi
setiap akibat, dan bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya
secara ilmiah. Pada setiap penelitian ilmiah melekat ciri-ciri umum, yaitu
pelaksanannya yang metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang logis dan
koheren. Ciri lainnya adalah universalitas. Setiap penelitian ilmiah harus
objektif, artinya terpimpin oleh objek dan tidak mengalami distorsi karena
adanya berbagai prasangka subjektif.
3. Jenis-jenis
Kebenaran
Telaah
dalam filsafat ilmu, membawa orang kepada kebenaran dibagi dalam tiga jenis.
Menurut A.M.W. Pranarka (1987) tiga jenis kebenaran itu adalah kebenaran
epistemologikal, kebenaran ontologikal dan kebenaran semantikal.
Kebenaran
epistemologi adalah pengertian kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan
manusia. Kadang-kadang disebut dengan istilah veritas cognitionis ataupun veritas
logica. Kebenaran dalam arti ontologikal adalah kebenaran sebagai sifat
dasar yang melekat kepada segala sesuatu yang ada atau pun diadakan. Apabila
dihubungkan dengan kebenaran epistemologikal kadang-kadang disebut juga
kebenaran sebagai sifat dasar yang ada didalam objek pengetahuan itu sendiri.
Adapun kebenaran dalam arti semantikal adalah kebenaran yang terdapat serta
melekat didalam tutur kata dan bahasa. Kebenaran semantikal disebut juga
kebenaran moral (veritas moralis) karena apakah tutur kata dan bahasa itu
mengkhianati atau tidak terhadap kebenaran epistemologikal ataupun kebenaran
ontologikal tergantung kepada manusianya yang mempunyai kemerdekaan untuk
menggunakan tutur kata ataupun bahasa itu.
Apabila
kebenaran epistemologikal terletak didalam adanya kemanunggalan yang sesuai
serasi terpadu antara appa yang dinyatakan oleh proses cognitif-intelektual
manusia dengan apa yang sesungguhnya ada didalam objek ( yang disebut esse reale rei ), apakah itu
konkret atau abstrak, maka implikasinya adalah bahwa di dalam esse reale rei
tersebut memang terkandung suatu sifat intelligibilitas ( dapat diketahui
kebenarannya ).
Hal
adannya intelligibilitas sebagai kodrat yang melekat di dalam objek, di dalam
benda, barang, makhluk dan sebagainya sebagai objek potensial maupun riil dari pengetahuan cognitif intelektual manusia itulah yang
disebut kebenaran ontological, ialah sifat benar yang melekat didalam objek.[15]
4. Sifat
Kebenaran
Menurut
Abbas Hamami Mintaredja (1983) kata ‘kebenaran’ dapat digunakan sebagai suatu
kata benda yang konkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran
artinya proposisi yang benar. Proposisi maksudnya makna yang dikandung dalam
suatu penyataan atau statement. Jika subjek menyatakan kebenaran bahwa
proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik,
hubungan dan nilai. Hal demikian karena kebenaran tidak dapat begitu saja
terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu sendiri.
Dengan
adanya berbagai kategori tersebut, tidaklah berlebihan jika padasaatnya setiap
subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang
amat berbeda satu dengan yang lainnya, dan disitu terlihat sifat-sifat dari
kebenarannya.
Berbagai
kebenaran dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM Yogyakarta (1996)
dibedakan menjadi tiga hal, yakni sebagai berikut:
a. Kebenaran
berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya setiap pengetahuan yang dimiliki
oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek ditilik dari jenis pengetahuan
yang dibangun.
b. Kebenaran
dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat
apakah seseorang membangun pengetahuannya. Apakah ia membangunnya dengan
pengindraan atau sense xperience, atau dengan akal pikir atau rasio, intuisi,
atau keyakinan.
c. Kebenaran
yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan.
5. Teori
Kebenaran
a.
Teori Kebenaran Saling
Berkesesuaian ( Correspondence Theory of
Truth )
Teori
kebenaran Korespondensi menyatakan bahwa satu teori/proposisi benar bila
proposisi atau teori itu sesuai dengan fakta ( kenyataan ). Kebenaran adalah
kesetiaan pada realitas objektif. Aristoteles menyebut ini dengan teori
penggambaran/cermin yang ia rumuskan sebagai “veritas est adaequatio
intellectus et rhei “.[16]
Teori
ini dikenal sebagai salah satu teori kebenaran tradisional, atau teori yang
paling tua. Teori ini sampai tingkat tertentu telah dimunculkan Aristoteles.
Menurut Aristoteles, mengatakan hal yang ada sebagai tidak ada, atau yang tidak
ada sebagai ada, adalah salah. Sedangkan mengatakan hal yang ada sebagai ada,
atau yang tidak ada sebagai tidak ada, adalah benar. Dengan ini Aristoteles
sudah meletakkan dasar bagi teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa
kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Pernyataan
dianggap benar kalau apa yang dinyatakan di dalamnya berhubungan atau punya
keterkaitan (correspondence) dengan kenyataan yang diungkapkan dalam pernyataan
itu. Kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai yang
diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai
tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Menurut teori
ini, kebenaran terletak pada kesesuaian antara subyek dan obyek, yaitu apa yang
diketahui subyek dan realitas obyektif sebagaimana adanya.[17]
b.
Teori Kebenaran Saling Berhubungan (Coherence Theory of Truth)
Kalau
teori kebenaran korespondensi dianut oleh kaum empirisis, maka teori kebenaran
koherensi dianut oleh kaum rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, Descartes,
Hegel, dan yang lainnya. [18]
Dalam
teori konsistensi atau koherensi, kebenaran adalah apabila adanya saling
hubungan antar putusan-putusan atau kesesuain/ketaatasasan dengan kepakatan
atau pengetahuan yang telah dimiliki.[19] Menurut
teori ini, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisi dengan
kenyataan, melainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang
sudah ada sebelumnya dan telah diakui kebenarannya. Suatu pengetahuan, teori,
pernyataan proposisi, atau hipotesis dianggap benar kalau sejalan 133 dengan
pengetahuan, teori, proposisi, atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi
itu konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar. Matematika dan
ilmu-ilmu pasti sangat menekankan teori kebenaran koherensi. Menurut para penganut
teori ini, suatu pernyataan atau proposisi dinyatakan benar atau salah dapat
dilihat apakah proposisi itu berkaitan dan meneguhkan proposisi atau pernyataan
yang lain atau tidak. Suatu pernyataan benar kalau pernyataan itu cocok dengan
sistem pemikiran yang ada. Dengan demikian, kebenaran sesungguhnya berkaitan
dengan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada.[20]
c. Teori
Kebenaran Pragmatis
Pragmatisme
adalah aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-19, yang
menekankan pentingnya akal budi (rasio) sebagai sarana pemecahan masalah (problem
solving) dalam kehidupan manusia baik masalah yang bersifat teoritis maupun
praktis. Tokoh pragmatisme awal adalah Charles Sander Pierce (1834-19140) yang
dikenal juga sebagai tokoh semiotik, William James (1842-1910) dan John Dewey
(1859-1952) (Honderich, 1995).[21]
Bagi
kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Jadi, ide, konsep,
pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar
adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang – berdasarkan ide itu –
melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Dengan kata lain,
berhasil ;dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide
benar atau tidak. Contohnya, ide bahwa kemacetan di jalan-jalan besar di
Jakarta disebabkan terlalu banyak kendaraan pribadi yang ditumpangi satu orang.
Maka, konsep solusinya, “wajibkan kendaraan pribadi ditumpangi minimum 3
penumpang”. Ide tadi benar kalau ide tadi berguna dan berhasil memecahkan
persoalan kemacetan. Pierce mengatakan bahwa ide yang jelas dan benar mau tidak
mau mempunyai konsekuensi praktis pada tindakan tertentu. Kalau ide itu benar,
maka ketika diterapkan akan berguna dan berhasil untuk memecahkan suatu
persoalan dan menentukan perilaku manusia. 136 William James mengembangkan
teori pragmatisnya tentang kebenaran dengan berangkat dari pemikirannya tentang
“berpikir”. Menurutnya, fungsi dari berpikir bukan untuk menangkap; kenyataan
tertentu, melainkan untuk membentuk ide tertentu demi memuaskan kebutuhan atau
kepentingan manusia. Ide atau teori yang benar adalah ide atau
teori yang berguna dan berfungsi memenuhi tuntutan dan kebutuhan kita.
Sebaliknya, ide yang salah adalah ide yang tidak berguna atau tidak bisa
berfungsi membantu kita memenuhi kebutuhan kita. Ide yang benar adalah ide yang
berfungsi dan berlaku membantu manusia bertindak secara tertentu dan secara
berhasil. Ide yang benar sesungguhnya adalah instrumen untuk bertindak secara
berhasil. Bagi John Dewey, kalau kita mau memahami apa pengaruh suatu ede atas
pengalaman dan kehidupan kita, kita harus melihat bagaimana ide tersebut
berlaku dan berfungsi dalam penggunaannya, yaitu bagaimana ide tersebut
membantu kita memecahkan berbagai persoalan hidup kita. Bagi kaum pragmatis,
yang penting bukanlah benar tidaknya suatu ide secara abstrak. Melainkan,
sejauh mana kita dapat memecahkan persoalan-persoalan praktis yang muncul dalam
kehidupan kita dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Sejauh mana kita dapat
memecahkan persoalan dalam realitas kehidupan kita dengan menggunakan ide-ide
itu. Semakin berguna sebuah ide untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis,
maka ide itu akan dianggap paling benar. Kebenaran pragmatis sebenarnya juga
mencakup kebenaran empiris. Namun kebenaran pragmatis lebih bersifat radidkal,
karena kebenaran pragmatis tidak hanya sesuai dengan
kenyataan, melainkan juga pernyataan yang benar (sesuai dengan kenyataan) itu
memang dalam kenyataannya berguna bagi manusia. Kebenaran bagi kaum pragmatis
mengandung suatu sifat yang baik. Suatu ide atau teori tidak pernah benar kalau
tidak baik untuk sesuatu. Dengan kebenaran, manusia dibantu untuk melakukan
sesuatu secara berhasil. William James menolak kebenaran rasionalistis yang
hanya memberi definisi-definisi yang abstrak tanpapunya relevansi bagi
kehidupan praktis. Kebenaran rasional jangan hanya berhenti di situ saja,
melainkan perlu diterapkan sehingga sungguh-sungguh berguna bagi manusia. Kita
tidak hanya membutuhkan “pengetahuan bahwa” dan “pengetahuan mengapa” tapi juga
membutuhkan “pengetahuan bagaimana”.
d. Teori
Kebenaran Performatif
Teori
kebenaran ini berasal dari John Langshaw Austin (1911-1960) seorang filsuf
Inggris yang mengemukakan teori tindak bahsa (speech-acts). Austin tidak begitu
tertarik membicarakan bahasa sebagai pemeparan realitas (fakta atomik). Ia
mengarahkan analisisnya pada pemakaian bahasa sehari-hari. Ia membedakan dua
macam penggunaan bahasa, yaitu (1) proposisi atau tuturan konstatif dan (2)
proposisi atau tuturan performatif dengan aturan/kriterianya sendiri. [22] Menurut
teori ini suatu pernyataan kebenaran bukanlah kualitas atau sifat sesuatu,
tetapi sebuah tindakan (performatif). Untuk menyatakan sesuatu itu benar maka
cukup melakukan tindakan konsesi (setuju mnerima atau membenarkan) terhadap gagasan yang telah
dinyatakan.[23]
Menurut
teori performatif ini, suatu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan itu
menciptakan realitas. Jadi, pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang
mengungkapkan realitas tapi justru dengan pernyataan itu tercipta suatu
realitas sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Contohnya: “Dengan
ini, saya mengangkat kamu menjadi bupati Bantul.” Dengan pernyataan itu,
tercipta sebuah realitas baru, yaitu realitas kamu sebagai bupati Bantul. Di
satu pihak, teori ini dapat dipakai secara positif tetapi juga di pihak lain
dapat pula dipakai secara negatif. Secara positif, dengan pernyataan tertentu
orang berusaha mewujudkan apa yang dinyatakannya.[24]
e. Teori
Kebenaran Berdasarkan Arti ( Semantic
Theory of Truth )
Proposisi
itu ditinjau dari segi artinya atau maknanya. Apakah proposisi yang merupakan
pangkal tumpunya itu mempunyai referen yang jelas. Oleh sebab itu, teori ini
mempunyai tugas untuk menguakkan kesahan dari proposisi dalam referensinya.
Teori
kebenaran semantis dianut oleh paham filsafat analitika bahasa yang
dikembangkan paska filsafat Bertrand Russell sebagai tokoh pemula dari filsafat
Analitika Bahasa. Teori kebenaran semantis, sebenarnya berpangkal atau mengacu
pada pendapat Aristoteles dengan ungkapan sebagai berikut: “Mengatakan sesuatu
yang ada sebagai yang ada dan sesuatu yang tidak ada sebagai yang tidak ada,
adalah benar”. Dan juga mengacu pada teori korespondensi, yang menyatakan
bahwa: “kebenaran terdiri dari hubungan kesesuaian antara apa yang dikatakan
dengan apa yang terjadi dalam realitas”. Menurut teori ini, benar atau tidaknya
suatu proposisi didasarkan pada ada tidaknya arti atau makna dalam proposisi
terkait. Apabila proposisi tersebut memiliki arti atau makna, serta memiliki
pengacu (referent) yang jelas, maka proposisi dinyatakan benar, sedangkan
apabila sebaliknya dapat dinyatakan salah. Setiap pernyataan tentu memiliki
arti atau makna yang menjadi acuannya. Proposisi itu mempunyai nilai kebenaran,
bila proposisi itu memiliki arti. Arti diperoleh dengan menunjukkan makna yang
sesungguhnya, yaitu dengan menunjuk pada referensi atau kenyataan. Arti yang
dikemukakan itu memiliki sifat definitif, yaitu secara jelas menunjuk ciri khas
dari sesuatu yang ada. Arti yang termuat dalam proposisi
tersebut dapat 139 bersifat esoterik, arbitrer, atau hanya mempunyai arti
sejauh dihubungkan dengan nilai praktis dari subyek yang menggunakannya. [25]
f. Teori
Kebenaran Sintaksis
Teori
ini berkembang di antara para filsuf analisa bahasa, terutama yang begitu ketat
terhadap pemakaian gramqatika seperti Friederich Schleiermacher. Menurut
Schleiermacher, pemahaman adalah suatu rekonstruksi, bertolak dari ekspresi
yang selesai diungkapkan dan menjurus kembali ke suasana kejiwaan di mana
ekspresi tersebut diungkapkan. Di sini terdapat dua momen yang saling terjalin
dan berinteraksi, yakni momen tata bahasa dan momen kejiwaan. Para penganut
teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau
gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata-bahasa yang melekatnya.
Sehingga kebenaran ini terkait dengan bagaimana suatu hasil pemikiran
diungkapkan dalam suatu pernyataan bahasa (lisan atau tertulis) yang perlu
dirangkai dalam suatu keteraturan sintaksis atau gramatika yang digunakannya.
Suatu pernyataan memiliki kebenaran, bila pernyataan itu mengikuti aturan
sintaksis yang baku. Sedangkan apabila proposisi atau pernyataan itu tidak
mengikuti syarat tersebut, maka proposisi atau pernyataan itu tidak mempunyai
arti, sehingga tidak mampu mengungkap makna dari hasil pemikiran yang telah
dilakukan. Suatu ide, konsep, atau teori dinyatakan benar, bila berhasil
diungkapkan menurut aturan sintaksis yang baku. Kebenaran baru akan nampak
dalam suatu pernyataan bahasa (lisan atau tertulis). Sehingga benar atau
salahnya suatu pernyataan sangat dipengaruhi oleh keteraturan sintaksis serta
penataan bahasa yang digunakannya. Apabila mampu dinyatakan dalam wujud bahasa
dengan aturan sintaksis yang baku, maka pernyataan tersebut dapat dikatakan
benar, sedangkan apabila tidak mampu tentu saja itu salah. Bahasa berfungsi
untuk mengungkap ide, konsep, atau teori yang telah dihasilkan dari proses
pemikiran dalam komunikasi kita satu sama lain, sehingga bila pernyataan atau
ungkapan bahasa tersebut tidak didasarkan pada aturan bahawa yang ada tentu
dapat menghasilkan pernyataan yang tidak memiliki makna, atau pernyataan yang
memiliki makna yang sama sekali berbeda dengan makna yang sudah ada dalam
pemikiran kita.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara
etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu Knowledge. Dalam Encyclopedia Of Philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan
adalah kepercayaan yang benar ( Knowledge
Is Justified True Belief ). Sedangkan secara terminologi dikemukakan
beberapa definisi tentang pengetahuan.
Sumber-sumber
pengetahuan yang di cantumkan baik oleh Hospers maupun oleh Honderich
tersebut yaitu, persepsi, ingatan,
akal/nalar, introspeksi, intuisi, otoritas, prakognisi, clairvoyance, wahyu,
keyakinan dan telepati.
Jenis-jenis
pengetahuan ialah, pengetahuan eikasia, pengetahuan pistis, pengetahuan
dianoya, dan pengetahuan noesis.
Ilmu
pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris sciene, yang berasal dari bahasa
latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari,
meengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti
sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai
gejala yang ingin dimengerti manusia. Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah
sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa
yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat
tentang sesuatu.
Apakah
kebenaran itu? Inilah pertanyaan yang lebih lanjut harus dihadapi didalam
filsafat ilmu. Hal kebenaran sesungguhnya memang merupakan tema sentral di
dalam filsafat ilmu. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah
untuk mencapai kebenaran. Rasanya lebih tepat kalau pertanyaan kemudian
dirumuskan menjadi apakah pengetahuan yang benar itu?.
Problematik
menganai kebenaran, seperti halnya problematik tentang pengetahuan, merupakan
masalah-masalah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya dalam filsafat ilmu.
Apabila orang memberikan prioritas kepada peranan pengetahuan, dan apabila
orang percaya bahwa dengan pengetahuan itu manusia akan menemukan kebenaran dan
kepastian, maka mau tidak mau orang harus berani menghadapi pertanyaan
tersebut, sebagai hal yang mendasar dan hal yang mendasari sikap dan
wawasannya.
Beberapa
teori kebenaran diantaranya, teori kebenaran korespondensi, kebenaran
koherensi, kebenaran pragmatis, kebenaran performatif, kebenaran semantis,
kebenaran dan kebenaran sintaksis.
B. Saran
Kami
sangat menyadari banyaknya kekurangan dalam makalah ini baik dari segi bahasa,
penulisan dan lain sebagainya. Maka dari itu, pemakalah menyarankan apabila ada
kata atau kalimat yang belum pembaca pahami silahkan tanyakan pada pemakalah
pada sesi tanya jawab. Selain itu silahkan pembaca kritik dan berikan pemakalah
saran untuk makalah ini. Agar nantinya kami perbaiki sehingga terciptalah
makalah yang baik dan benar yang sesuai dengan aturan dikemudian hari.
DAFTAR
PUSTAKA
A. Buku
-
Bakhtiar,
Amsal. Filsafat Ilmu, Ed. 1, cet. 12
( Jakarta : Rajawali Pers, 2013.
-
Surajiyo, Filsafat
Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia : Suatu Pengantar, Ed. 1, Cet. 5,
(Jakarta : PT Bumi Aksara, 2010 ).
- Yusuf Lubis, Akhyar. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer, Ed. 1, Cet. 2, ( Jakarta :
Rajawali Pers, 2015 ).
-
A. Susanto, Filsafat Ilmu : Suatu kajian dalam
Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, Cet. 3. ( Jakarta : Bumi
Aksara, 2013 ).
B. Internet
-
Wahana, Paulus: Filsafat Ilmu Pengetahuan, ( Yogyakarta : Pustaka Diamond ), 2016.
[1]
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Ed. 1,
cet. 12 ( Jakarta : Rajawali Pers, 2013 ), Hlm. 85-86.
[2]
Surajiyo, Filsafat Ilmu dan
Perkembangannya di Indonesia : Suatu Pengantar, Ed. 1, Cet. 5, (Jakarta :
PT Bumi Aksara, 2010 ), Hlm. 24.
[3]
Rasionalisme yang disebut diatas tidak sama deengan rasionalisme kritis (
critical rationalism ) dari Karl Raimund Popper atau empirisme kritis dari Paul
Feyerabend yang muncul tahun 1960-an/70-an sebagai kecenderungan filsafat ilmu
Pengetahuan di Eropa dan Amerika menjelang akhir abad ke-20.
[4]
Immanuel Kant menyebut pengetahuan seperti itu dengan nama ‘pengetahuan
analitis’. Pengetahuan analitis yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses
analisa. Proposisinya disebut dengan proposisi analitik ( analytic statement ).
[5]
Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu Klasik
Hingga Kontemporer, Ed. 1, Cet. 2, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2015 ), Hlm.
32-36.
[8]
Surajiyo, Op. Cit. Hlm. 30.
[9] Akhyar
Yusuf Lubis, Op. Cit. Hlm. 41.
[10] Gorgias
adalah salah satu kaum sofis. Kaum Sofis menanamkan keraguan dan
ketidakmungkinan untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran (skeptitisme)
[11]
Surajiyo, Op. Cit, hlm. 55-56.
[12]
Surajiyo, Op. Cit, hlm. 58-60.
[14]
Surajiyo, Op. Cit. Hlm. 101-102.
[15]
Surajiyo, Op. Cit. Hlm. 102
[16] Akhyar
Yusuf Lubis, Op. Cit, Hlm. 52.
[17]
Paulus Wahana, E-Book : Filsafat Ilmu
Pengetahuan, ( Yogyakarta : Pustaka Diamond ), 2016. Hlm. 130.
[18]
Ibid, hlm. 132.
[19]
Akhyar yusuf Lubis, Loc. Cit, Hlm. 52.
[21] Akhyar
Yusuf Lubis, Op. Cit. Hlm.53.
[22]
Akhyar Yusuf Lubis. Op. Cit. Hlm. 54-55.
[23]
A. Susanto, Filsafat Ilmu : Suatu kajian dalam Dimensi Ontologis,
Epistemologis, dan Aksiologis, Cet. 3. ( Jakarta : Bumi Aksara, 2013 ), Hlm.
87.
[25] Paulus
Wahana. Op. Cit. Hlm. 138-139.
Langganan:
Komentar (Atom)
